Bupati Ikram Umasugi S.E Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati
KAB BURU , Namleanews.com – Di tengah kesibukan agenda kedinasan bersama Kementerian Pusat di Jakarta, Bupati Buru, Ikram Umasugi, menyempatkan diri melakukan kunjungan spiritual ke Jawa Barat pada Senin, 6 Juli 2026. Beliau melakukan ziarah ke makam salah satu Wali Songo, Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), di Cirebon, sekaligus menunaikan ibadah salat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Langkah ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah refleksi kepemimpinan yang mengintegrasikan nilai spiritualitas dengan tanggung jawab keduniawian.
Dalam rangkaian kunjungannya, Bupati Ikram Umasugi singgah di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, sebuah situs monumental yang terletak di dalam kompleks Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon.
Secara historis ilmiah, masjid yang dibangun pada tahun 1480 Masehi oleh Sunan Gunung Jati dan diarsiteki oleh Sunan Kalijaga ini merupakan masjid tertua di Cirebon dan Jawa Barat. Masjid ini menjadi bukti nyata akulturasi budaya yang apik antara Islam, Jawa, dan Hindu Majapahit. Arsitektur bangunan ini memuat pesan sosiologis bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan cara damai, merangkul kebudayaan lokal tanpa menghilangkannya.
Di sela-sela kegiatannya, Ikram Umasugi menjelaskan esensi dari aktivitas ziarah yang dilakukannya. Secara etimologis, kata ziarah berasal dari kata ziyadah atau ziyarah yang berarti mengunjungi. Dalam perspektif hukum Islam (fikih), amalan ini berstatus sunnah muakkadah (sangat dianjurkan).
“Dalam Islam, ziarah adalah kunjungan yang dilakukan secara sadar dan sengaja untuk mendoakan mereka yang telah wafat serta mengambil pelajaran hidup (ibrah). Tujuan utamanya adalah pengingat akan kematian dan kehidupan akhirat, agar kita yang sedang mengemban amanah tidak lupa diri,” ujar Bupati Buru tersebut.
Refleksi Historis Mengambil teladan (uswah) dari kegigihan, strategi kemasyarakatan, dan keluhuran budi pekerti para penyebar Islam dalam membangun peradaban Islam di Indonesia.
Tidak sekadar melakukan ritus pribadi, di hadapan makam sang Wali, Bupati Ikram Umasugi secara khusus melangitkan doa terbaik untuk tanah kelahirannya, Pulau Buru.
Beliau bermunajat agar Kabupaten Buru ditransformasikan menjadi daerah yang “Baldatun Toyyibatun Warabbun Ghafur” sebuah konsep teologis sosiologis tentang negeri yang makmur, adil, sejahtera secara material, namun tetap berada dalam bingkai rida dan ampunan Allah SWT.
Ziarah ini memberikan pesan kuat kepada publik bahwa kepemimpinan yang kokoh adalah kepemimpinan yang seimbang bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman di ranah birokrasi pemerintahan, namun tetap tunduk dan berakar kuat pada nilai-nilai ketuhanan serta sejarah para leluhur bangsa

